HealthcareUpdate News

Angka Pernikahan di Indonesia Menurun, Ini Dampaknya bagi Kesehatan Masyarakat

Penurunan angka pernikahan di Indonesia dalam satu dekade terakhir memicu kekhawatiran baru, karena berpotensi berdampak pada kesehatan mental, struktur sosial, dan tantangan kesehatan masyarakat ke depan.

Penurunan angka pernikahan di Indonesia dalam satu dekade terakhir memunculkan kekhawatiran baru, tidak hanya dari sisi sosial dan demografi, tetapi juga potensi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat, khususnya kesehatan mental dan kesejahteraan sosial generasi muda.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan. Pada 2014, jumlah pernikahan di Indonesia masih berada di kisaran 2,1 juta peristiwa. Sepuluh tahun kemudian, pada 2024, angka tersebut menyusut hingga mendekati 1,4 juta pernikahan. Penurunan ini mencerminkan perubahan besar dalam pola hidup dan cara pandang masyarakat terhadap pernikahan.

Komisioner Komnas Perempuan, Prof. Alimatul Qibtiyah, dalam berbagai kesempatan yang dilaporkan media nasional menyebutkan bahwa penurunan angka pernikahan tidak bisa dilepaskan dari faktor ekonomi, perubahan nilai sosial, serta meningkatnya kesadaran generasi muda terhadap risiko dalam relasi rumah tangga. Ia menilai pernikahan kini dipandang lebih rasional, bukan lagi sebagai keharusan sosial, melainkan keputusan besar yang penuh pertimbangan.

Sejalan dengan itu, peneliti sosiologi mencatat munculnya fenomena “marriage is scary” di kalangan generasi muda. Kecemasan terhadap konflik rumah tangga, tekanan ekonomi, hingga risiko perceraian membuat sebagian anak muda merasa pernikahan sebagai sesuatu yang menakutkan. Paparan media sosial yang kerap menyoroti kegagalan rumah tangga, perselingkuhan, dan perceraian figur publik turut memperkuat persepsi negatif tersebut, yang dalam jangka panjang berpengaruh pada kesehatan mental, terutama meningkatnya kecemasan dan ketakutan terhadap komitmen jangka panjang.

Dari perspektif kesehatan masyarakat, tren ini mulai mendapat perhatian serius. Sejumlah kajian menunjukkan bahwa pernikahan yang stabil sering kali berkaitan dengan dukungan emosional dan sosial yang lebih kuat, yang berperan penting dalam menjaga kesehatan mental dan membantu individu mengelola stres. Ketika pernikahan menurun, sebagian kelompok dewasa berisiko mengalami isolasi sosial dan kesepian, kondisi yang dalam jangka panjang dapat memicu gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan, serta berdampak pada kesehatan fisik.

Read More  Transformasi Digital Lewat G-Bionic, Pertamina Geothermal Energy Genjot Efisiensi dan Menuju Target 3 GW

Selain itu, penurunan angka pernikahan juga berkaitan erat dengan penurunan angka kelahiran. Jika tren ini berlanjut, Indonesia berpotensi menghadapi percepatan penuaan penduduk. Struktur penduduk yang semakin menua dapat meningkatkan beban sistem kesehatan nasional, karena kebutuhan layanan penyakit kronis dan perawatan lansia cenderung meningkat, sementara jumlah penduduk usia produktif relatif berkurang.

Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa tidak menikah tidak otomatis berdampak buruk bagi semua orang. Individu yang memiliki dukungan sosial kuat dari keluarga, teman, dan komunitas, serta akses yang baik terhadap layanan kesehatan mental dan fisik, tetap dapat menjalani hidup yang sehat dan sejahtera. Faktor perlindungan seperti stabilitas ekonomi, lingkungan sosial yang suportif, dan kesadaran menjaga kesehatan dinilai lebih menentukan dibandingkan status pernikahan semata.

Tantangan kesehatan masyarakat ke depan adalah memastikan perubahan pola pernikahan ini tidak menciptakan kelompok rentan baru, khususnya dari sisi kesehatan mental dan kesejahteraan sosial. Penguatan layanan kesehatan mental, kebijakan yang mendorong inklusivitas sosial, serta edukasi mengenai hubungan yang sehat dan realistis dinilai menjadi langkah penting untuk merespons tren penurunan angka pernikahan secara konstruktif.

Back to top button